Mendaki Bukit Simancik

“Ma, uti pengen kali rasanya mendaki gunung kerinci. Mama aja dulu bisa mendaki gunung kerinci waktu kelas 2 SMA, masa Uty yang kelas 3 SMP gak bisa” kataku suatu hari saat makan siang. “Yakin Ut? Jauh lho perjalanannya, sepuluh kilo. Terus kalo udah nyampe puncak udaranya itu dingin banget. Jadi harus pake baju tujuh lapis kalo mau mendaki. Coba aja dulu mendaki bukit simancik yang dibelakang rumah makdang. Ajak juga kak Nina, bang Affan, dan yang lainnya.” Tutur mama. Makdang adalah panggilanku untuk abang mamaku yang pertama. “boleh juga. Gimana kalo pas lebaran tahun ini kita perginya?” usulku. “Ayo!” kata mamaku.

Kemudian, ketika libur akhir puasa, aku, mama, tante, dua adik dan dua sepupuku pergi ke kampung kami yang sudah empat tahun terakhir kami ke sana. Tapi sayang sekali papaku tidak bisa ikut karena sedanng berada di Kalimantan sehingga salah satu abang sepupuku yang berada di kampung didatangkan ke Pekanbaru untuk menjadi supir kami. Selama di perjalanan aku banyak melihat pemandangan yang sangat indah. Tapi kadang aku juga melilhat orang-orang yang meminta sumbangan mesjid, entah itu benar atau tidak. Tak terasa, kami sudah sampai di Sungai Penuh, kampungku. Kali ini aku menginap di rumah adik mamaku yang paling kecil.

Dua minggu setelah aku di sini, lebaran pun tiba. Aku sangat senang dengan hari raya, karena selain berhasil menamatkan puasa tanpa ada yang bolong, aku juga bisa bermaaf-maafan, berkumpul dengan sanak saudara yang sudah \lama tidak berjumpa, dan tentunya mendapat Tabungan Hari Raya (THR) yang banyak.

Akhirnya, hari yang kunanti selama ini telah tiba. 2 haru setelah lebaran, aku dan saudara-saudara beserta mama dan tanteku pergi mendaki bukit puti senang. “Udah dimasukkan ke dalam tas  bakwannya?” tanya Ibu Cece, istrinya makdang, kepada mamaku. “Udah. Cep, jangan lupa bawa air minumnya” kata mamaku kepada bang Cecep. “Oke, tek Ren!” kata bang Cecep. “Ayo semua, kita berangkat!” kata kak Yani, salah satu kakak sepupuku. “Nggak sabar pengen sampai di  atas bukit simancik” ujarku.

Kemudian kami pergi mendaki bukit itu. Perjalanan jadi menyenangkan karena kami pergi beramai-ramai. “Keluarin tustelnya dong, foto-foto kita di sini” kata kak Febi. “Nanti ajalah pas dah nyampe” kata bang Kiki.

“Di sini tempatnya, ma?” tanyaku. “Ia di sini” kata mama. “Tapi katanya mau ke atas bukit, kok malah jadi ke batu di atas bukit sih?” tanyaku keheranan. Padahal aku sudah membayangkan jika nanti berada di atas bukit, tapi ternyata kami hanya mendaki setengahnya aja. “Kita tujuannya emang kesini kok” kata mama. Jawaban mama itu membuat aku kesal. Padahal beliau bilang akan mendaki sampai ke atas bukit. Tapi nggak apa, disini aku juga bisa melihat rumah-rumah sekitar tempat tinggal makdang. “oh ia, ini namanya batu apa, ma?” tanya Pipi, adikku. “Ini namanya batu Puti Senang. Dulu waktu zaman mama masih kecil, di atas batu ini kita bisa melihat danau kerinci. Trus jalannya juga nggak banyak semak belukar dan banyak orang yang mendaki bukit ini.” kata mama. “Wow, aku jadi merasa bangga punya nama Puti. Hahaha!” paparku.

“Tapi, karena semakin sedikit orang yang mendaki, jalan menuju ke sini jadi kurang terurus dan dipenuhi semak belukar” kata abang Andi. “Ayo kita foto-foto! Tadi katanya kalo udah nyampe mau foto-foto” kata kak Febi. Akhirnya kami semua berfoto bersama. Senang rasanya mendaki bukit si mancik walaupun hanya setengah perjalanan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s