Aku di 10 Tahun Mendatang

Kami disuruh bikin surat mengenai judul blog diatas, yang nanti dikasih oleh dosenku. Ini adalah tugas perdana dari pak Sigit Sugiarto, dosen lulusan S1 dan S2 di UGM yang mengajar mata kuliah Rancangan Percobaan di kampusku. Mata kuliah ini adalah bagian dari Statistika, jadi sebenarnya emang ga ada hubungannya tugas ini dengan mata kuliahnya.

Aku baru pertama kali ambil kelas beliau selama 4 semester di kampus. Itupun karena menurutku beliau dosen yang sedikit lebih baik dibandingkan 2 kelas yagng lain.Katanya sih, dia itu orangnya update soal gadget (khusunya apple, bahkan sangat amat maniak!) dan film-film, dan katanya suka nambah wawasan juga. Tapi yang buat syok adalah, TUGASNYA BANYAK tapi DEADLINE-NYA BENTAR! wuahahaha aku cuma bisa ketawa aja.

Tapi, bukan hal diatas yang penting untuk diceritakan disini.

Ada satu hal yang buat aku nyesek. Kami masuk kuliah jam 7.00 WIB dan ga boleh telat. Tapi nasib kayaknya lagi ga berpihak sama aku. Aku telat datang, dan akhirnya tugas ini ga jadi aku kumpulin ke bapak. Hiks ūüė¶

Yasudahlah, terlalu banyak prolog. Tulisan dibawah ini adalah isi surat yang seharusnya aku kumpulin ke pak Sigit.

 *  *  *  *  *

Saya punya 2 perencanaan (cita-cita) untuk kehidupan saya di 10 tahun mendatang.

Plan A : Jadi aktuaris

Setelah lulus S1 tahun 2018 nanti (AMIN YA ALLAH), saya ingin mencoba untuk ikut tes aktuaris. Padahal awalnya saya ga bercita-cita buat jadi aktuaris. Saya tau tentang aktuaris ini dari salah satu kakak saya yang bekerja di salah satu perusahaan asuransi ternama di Indonesia. Beliau yang menyarankan saya setelah tamat kuliah nanti coba saja menjadi seorang aktuaris. Setelah cari info tentang aktuaris di internet, ternyata emang ga gampang. Kebanyakan orang pada umumnya sampai bertahun-tahun supaya dapat gelar aktuaris. Awalnya sempat underestimate, tapi karena liat gajinya banyak, saya jadi semangat buat betul-betul fokus disini. Dan insyaallah jika Allah menghendaki, saya ingin membuat skripsi yang berhubungan dengan aktuaria.

Bukan hanya karena gajinya banyak yang membuat saya pengen fokus jadi aktuaris. Saya berfikir, kalau seandainya saya punya gaji banyak, saya pengen buat sekolah untuk anak autis, atau yayasan bagi orang-orang yang membutuhkan. Terus buat kos-kosan dekat UNRI, dan nanti saya buat fasilitas selengkap-lengkapnya dengan harga per-kamarnya Rp 200.000 aja, dan untuk anak bidikmisi, saya diskon cuma bayar Rp 50.000,-

Saya sadar emang ga gampang. Tapi karena tantangan inilah yang membuat saya jadi makin semangat buat belajar di Matematika ini, meskipun awalnya saya ingin sekali bisa kuliah jurusan Akuntansi. Saya juga berpikir, walaupun tidak bisa jadi seorang akuntan, ya minimal saya bisa setara dengan akuntan, bahkan diatasnya sedikit, yakni menjadi seorang aktuaris. Dan ilmu matematika aktuaria yang pernah saya pelajari di kampus pun menjadi tidak terbuang percuma.

Plan B : Jadi dosen matematika di Universitas Riau

Rencana kedua ini akan saya realisasikan kalau seandainya saya tidak berhasil menjadi seorang aktuaris atau ketika saya menjadi ibu rumah tangga. Kenapa memilih dosen? Karena saya melihat di Matematika ini kekurangan dosen pembimbing untuk peminatan matematika manajemen, namun peminatnya justru yang paling banyak. Dari situ saya tergerak mau jadi dosen matematika aktuaria atau matematika keuangan, terserah yang mana aja boleh diantara kedua itu.

Sama seperti Plan A sebelumnya, saya juga ga ada kepikiran untuk jadi seorang dosen, tapi Papa saya yang paling nyinyir nyaranin saya. Awalnya agak sedikit kesal, tapi setelah melihat kondisi kampus saya sendiri, pemikiran untuk membantu pun muncul di pikiran saya. Makanya, saya juga akan berusaha mencari info tentang beasiswa S2.

Saya hanya ingin kuliah saya menjadi tidak sia-sia, ilmunya berguna untuk kehidupan nyata saya dan membantu orang lain juga. Sudah mati-matian ada disini, dan ilmunya terbuang percuma, itu rasanya menyakitkan. Kalaupun tidak jadi dosen, saya ingin jadi guru privat atau guru bimbel matematika. Sekali lagi, saya hanya ingin kuliah saya menjadi tidak sia-sia.

Jujur pak, saya sebenarnya dari hati kepengen jadi fotografer, karena saya suka iseng-iseng jepret gitu. Banyak yang bilang hasil jepretan + editan efek poto saya bagus, jadi itu yang membuat saya semakin pensaran buat ngarah kesana. Bahkan saya sempat kepikiran buat ikutan kursus jadi fotografer ataupun ikut komunitas yang hobi jepret-jepret gitu. Waktu saya bilang ini ke orang tua saya, mereka tolak mentah-mentah. Katanya fotografer tu ga usah dijadiin usaha  tetap. Itu jadiin hobi aja. Terus saya mikir, saya suka yang berhubungan dengan fotografi, pengen tau semuanya pokoknya, dan  kalo udah suka, terus kalau diterusin bukannya jadi ga kerasa ya kerjanya? Pasti hasilnya pun bakal lebih memuaskan, karena kita betul-betul dari hati untuk fokus disana.

Tapi, sepertinya harus sedikit saya undur angan-angan itu, karena saya belum ada modal banyak buat beli lensa yang bagus. Nah, dari hasil kerja saya yang berhubungan dengan matematika inilah, yang akan saya jadikan modal untuk meneruskan hobi saya ini. Dan, ketika saya bilang matematika ini dijadikan modal untuk jadi fotografer, baru orang tua saya setuju, karena mereka bilang kalo udah punya duit sendiri, ya itu hak saya. Ga ada campur tangan orang tua lagi hehe.

Tapi, apapun  rencana yang saya buat untuk masa depan saya, semua keputusan ada di tangan Allah SWT. Saya juga ga menjamin bahwa rencana ini berhasil, karena saya juga ga tau apa keputusan terbaik yang bakal Allah kasih buat saya di kehidupan masa depan saya. Yang bisa saya lakukan cuma terus berusaha, optimis, berdoa, dan selalu yakin, apapun yang terjadi dengan saya nanti, semuanya sudah diperhitungkan betul-betul oleh Allah SWT.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s