Aku #1

Pada dasarnya, aku ini bukan tipe orang yang banyak cerita. Aku bahkan kadang pilih-pilih kalo cerita, meskipun udah dekat sama orang itu. Karena aku cuma mau cerita dengan orang yang ga cuma sekedar bilang “oh” sama cerita aku, tapi punya respon yang lebih dan yang emang betulan mau peduli sama cerita aku. Jadi, aku bakal cerita kalo seandainya aku ditanya duluan. So far, aku cerita sama orang rata-rata responnya gitu semua, makanya aku putusin buat cerita lengkap sama Allah aja hehe. Tapi tenang aja, aku juga ga bakal nutup diri kalo seandainya kalian mau cerita sama aku.

Awal-awal aku belum sadar bahwa aku punya sifat ‘aneh’ kayak gini, aku sempat ngeluh juga, sempat ngerasa sedih gitulah. Ngerasa kayak ga ada orang yang mau dengarin cerita aku. Ga ada yang peduli sama aku. Ga ada yang mau tau gitu sama aku. Mereka sibuk aja ceritain diri mereka sendiri. Kalopun dengarin cerita aku tu paling nanya sekilas aja. Mungkin aja kali ya, gara-gara cara aku nyeritain itu kurang menarik, dan aku ini juga kadang lupa-lupa ingat sama cerita aku sendiri hahaha.

Tapi, makin lama, aku jadi ngerasa beruntung jadi pendengar cerita orang. Jadi pendengar keluh kesah orang. Aku ngerasa jadi orang yang bisa dipercaya buat dengarin cerita mereka. Dan (salah satunya) disini aku jadi ngerasa berguna sebagai teman. Di sisi lain, aku juga sadar, ternyata ada juga gunanya aku ga perlu ceritain keluh kesah aku ke orang-orang. Karena orang-orang yang cerita ke aku juga punya banyak masalah yang harus dipikirin. Singkatnya, aku ga perlu nambah beban hidup mereka.

Jadi, ya begitulah. Semoga aja aku tetap bisa bertahan dengan sifat ‘aneh’ kayak gini : jadi pendengar dan pemaham cerita yang setia, bukan pengeluh-kesah-ke-orang-lain yang setia.

 

Advertisements

Semangat Hijrah!

Malam ini ga sengaja dapat ig-nya anak ustad Arifin Ilham yang lagi hits karena diumurnya yang 17 tahun dia nikah muda di explore. Terus aku sekalian juga dapat ig istrinya. Baru nge­-scroll dikit karena jaringan yang hilang timbul, dan akhirnya aku coba buat searching sejarah Rissa, istrinya, masuk islam. Tapi susah kali dapatin yang cerita langsung dari mulut dia, yang kayak rekaman ulang Satu Jam Lebih Dekat punyanya ustad Felix Siaw. Yang ada cuma video tanya jawab, tapi aku pikir ‘gapapa deh, yang penting aku tau dikit dia itu gimana’.

Dan lagi, jaringan merusak semua. Aku ga selesai nonton videonya sampe abis. Tapi minimal aku udah dapat beberapa point penting yang selama ini udah sering aku dengar dan aku baca sendiri. Daripada aku nungguin videonya sampe selesai, mendingan aku pikir-pikir lagi deh, sebenarnya aku ini mau kemana dan mau jadi apa. Apa aku serius buat hijrah juga, atau tetap hijrah setengah-setengah karena masih belum ngerasa sanggup.

Alhamdulillah, aku sekarang perlahan udah bisa beraniin diri pake jilbab panjang kemana-mana selama libur dan pake baju gamis sama baju biasa tapi yang longgar lengkap sama kaos kaki. Aku juga udah berani pake manset tangan kalo seandainya lengan baju aku bisa bikin peluang lengan aku keliatan dikit. Terus juga udah berani pake anak jilbab yang dulu ogaaahh kali buat makenya gara-gara aku pikir aku bakal kayak emak-emak. Tapi masyaAllah, mungkin karena niat aku emang betul-betul pengen nutup aurat karena Allah, semua pemikiran negatif (kayak orang tua, pipi tembem, badan keliatan gemukan, takut dikira sok alim) hilang aja gitu di kepala aku. Pas ngaca, aku tetap ngerasa cantik hahaha, ngerasa cocok malah makenya. Alhamdulillah bersyukurlah pokoknya.

Pas liat Rissa dan Alvin, suaminya, aku jadi pengen deh suatu hari nanti bakal jadi pasangan kayak mereka. Punya suami yang bisa bimbing kita buat lebih dekat lagi sama Islam. Pas mikir gini, aku takut kalo seandainya hijrah aku ini semata-mata cuma buat dapat suami yang aku inginkan, bukan karena Allah. Takut betuuull aku ya AllahL Naudzubillah min dzalik, jangan sampai aku kayak gitu.

Gara-gara liat Rissa, aku pengen juga rasanya bikin catatan tentang perjalanan hijrah aku hihiii, siapa tau bisa jadi inspirasi buat para ukhti shalehah yang masih labil kayak aku gini. Rissa bilang, dulu aja pas dia baru-baru mempelajari Islam, dia juga sempat bingung sama ragu gitu. Nah aku? Yang dari lahir udah Islam, yang udah dari jaman pake baju merah-putih udah belajar agama, yang udah belasan tahun tau Islam, tapi kenapa ya gabisa jadi kayak dia juga?

MasyaAllah, pertanyaan aku yang diatas juga baru terpikir sama aku sekarang ini. Ya Allah, makasih buat muhasabah ini, makasih buat peringatannya, makasih banyak.

Aku dapat quotes aziq dari kembar siam fenomenal kak Yuliana-Yuliani

Kita belum tentu bisa jadi terbaik, tapi kita sudah pasti bisa melakukan hal-hal baik dengan sebaik mungkin, agar kita bisa menjadi orang baik.

So, ga ada kata terlambat buat belajar memperbaiki diri. Jangan sombong sama Allah, karena semua yang kita lakukan di dunia ini karena izin-Nya. Beliau yang punya alam semesta ini beserta isinya, kita cuma dikasih tebengan buat cari bekal ke tempat abadi kita, yaitu dunia akhirat. InsyaAllah, Allah bakal ingat kita juga dan bakal nolong dan lindungin kita selama di dunia.

Oke ti, selamat berhijrah! Jangan nunda-nunda lagi buat memulai kebaikan.

Asal Mula Tasik Raja

Kata yang empunya cerita, tersebutlah Tasik Raja yang dulunya merupakan hutan belantara yang lebat. Barang siapa ynag masuk ke dalamnya, maka jangan harap dapat keluar kembali dengan selamat.

Suatu hari, sekelompok orang talang datang ke sana. Mereka bermaksud hendak membuka ladang dan berkebun. Karena itu mereka langsung menebang pohon-pohon yang besar, sehingga tempat tersebut menjadi bersih dan terang.

Setelah itu, mereka menyemai benih dengan beramai-ramai. Tiba-tiba muncul keja- dian aneh. Seorang perempuan berambut putih karena uban datang dengan posisi badan terbungkuk. Setelah nenek itu tahu bahwa orang-orang talang menabur benih di tanah itu, nenek itu marah. Lalu ia memancang sebatang kayu yang menjadi tongkatya di tengah-tengah ladang tersebut. Ia mengatakan bahwa tongkat itu menjadi tanda bahwa mereka membuka ladang di tanah tersebut.

Pekerjaan menyemai diteruskan hingga petang. Setelah itu mereka pulang. Tapi begitu mereka meninggalkan ladang itu, terdengar bunyi salak anjing yang sangat banyak dan hiruk pikuk gegap gempita, namun tidak terlihat barang  seekorpun. Karena tak tahan mendengar bunyi salak anjing yang terus saja membising sepanjang malam, beberapa orang datang ke tempat pemimpin mereka dan menanyakan bunyi tersebut untuk menghentikannya. Dan pemimpin mereka mengatakan bahwa anjing itu anjing jadi-jadian yang menjadi penggiring nenek tadi.

Mereka pun pulang ke tempat masing-masing, kecuali seorang. Ia terkenal seorang yang pemberani dan suka menentng keputusan yang telah diambil. Dengan sombong orang itu pergi seorang diri ke tengah ladang tersebut. Namun semakin orang itu mendekat semakin nyaring dan bising suara salak anjing itu. Ia tak peduli dan terus saja mendekati tongkat yang dipancangkan nenek tua tadi. Dengan sekuat tenaga orang itu menetakkan parangnya pada tongkat yang tercacak di tengah ladang itu. Parang itu patah dua sedangkan tongkat itu sedi- kitpun tak kena ditekak. Mendadak bunyi salak anjing yang bising itu berhenti dan keadaan sunyi. Namun kesunyian itu tidak berlangsung lama. Kemudian terdengar lagi bunyi sala anjing yang lebih nyaring.

Orang itu sangat marah karena merasa dipermainkan. Diterpanya tongkat yang terpancang di tengah ladang lalu dicabutnya dengan sekuat tenaga. Tongkat itu lalu dihumbankannya jauh-jauh.

“ Pergilah engkau berhambus dengan tuamu serta anjing-anjingmu  yang banyak dan membuat bising itu !” seru orang itu.

Akan tetapi alangkah terperanjatnya orang itu ketika melihat lubang bekas tongkat nenek tadi tercacak keluar air deras dengan membusu-busu deras sekali. Ia  langsung lari lintang pukang menuju ke tempat teman-teman sesama suku.

Hari sudah hampir pagi, dan orang-orang sesukupun mendesas kearah orang itu. Mereka segera pergi kke ladang dan menyaksikan bagaimana bagaimana air menyembur dari lubang bekas tongkat yang dicacakkan nenek tua kemarin. Anehnya, air tersebut diiringi oleh bunyi salak anjing yang tak kelihatan.

Akhirnya tempat itu menjadi sebuah tasik sehingga orang-orang talang yang membuka tempat itu mejadi ladang, pergi ke tempat lain untuk membuka ladang.

Sejak itu pantang-larang benar-benar dipegang dengan keras. Tak boleh ada orang yang berani secara sombong melanggar pantang-larang itu semau hatinya saja

 

catatan : tulisan ini dikutip dari tugas mata pelajaran Budaya Riau pada tanggal 3 April 2010