Asal Mula Tasik Raja

Kata yang empunya cerita, tersebutlah Tasik Raja yang dulunya merupakan hutan belantara yang lebat. Barang siapa ynag masuk ke dalamnya, maka jangan harap dapat keluar kembali dengan selamat.

Suatu hari, sekelompok orang talang datang ke sana. Mereka bermaksud hendak membuka ladang dan berkebun. Karena itu mereka langsung menebang pohon-pohon yang besar, sehingga tempat tersebut menjadi bersih dan terang.

Setelah itu, mereka menyemai benih dengan beramai-ramai. Tiba-tiba muncul keja- dian aneh. Seorang perempuan berambut putih karena uban datang dengan posisi badan terbungkuk. Setelah nenek itu tahu bahwa orang-orang talang menabur benih di tanah itu, nenek itu marah. Lalu ia memancang sebatang kayu yang menjadi tongkatya di tengah-tengah ladang tersebut. Ia mengatakan bahwa tongkat itu menjadi tanda bahwa mereka membuka ladang di tanah tersebut.

Pekerjaan menyemai diteruskan hingga petang. Setelah itu mereka pulang. Tapi begitu mereka meninggalkan ladang itu, terdengar bunyi salak anjing yang sangat banyak dan hiruk pikuk gegap gempita, namun tidak terlihat barang  seekorpun. Karena tak tahan mendengar bunyi salak anjing yang terus saja membising sepanjang malam, beberapa orang datang ke tempat pemimpin mereka dan menanyakan bunyi tersebut untuk menghentikannya. Dan pemimpin mereka mengatakan bahwa anjing itu anjing jadi-jadian yang menjadi penggiring nenek tadi.

Mereka pun pulang ke tempat masing-masing, kecuali seorang. Ia terkenal seorang yang pemberani dan suka menentng keputusan yang telah diambil. Dengan sombong orang itu pergi seorang diri ke tengah ladang tersebut. Namun semakin orang itu mendekat semakin nyaring dan bising suara salak anjing itu. Ia tak peduli dan terus saja mendekati tongkat yang dipancangkan nenek tua tadi. Dengan sekuat tenaga orang itu menetakkan parangnya pada tongkat yang tercacak di tengah ladang itu. Parang itu patah dua sedangkan tongkat itu sedi- kitpun tak kena ditekak. Mendadak bunyi salak anjing yang bising itu berhenti dan keadaan sunyi. Namun kesunyian itu tidak berlangsung lama. Kemudian terdengar lagi bunyi sala anjing yang lebih nyaring.

Orang itu sangat marah karena merasa dipermainkan. Diterpanya tongkat yang terpancang di tengah ladang lalu dicabutnya dengan sekuat tenaga. Tongkat itu lalu dihumbankannya jauh-jauh.

“ Pergilah engkau berhambus dengan tuamu serta anjing-anjingmu  yang banyak dan membuat bising itu !” seru orang itu.

Akan tetapi alangkah terperanjatnya orang itu ketika melihat lubang bekas tongkat nenek tadi tercacak keluar air deras dengan membusu-busu deras sekali. Ia  langsung lari lintang pukang menuju ke tempat teman-teman sesama suku.

Hari sudah hampir pagi, dan orang-orang sesukupun mendesas kearah orang itu. Mereka segera pergi kke ladang dan menyaksikan bagaimana bagaimana air menyembur dari lubang bekas tongkat yang dicacakkan nenek tua kemarin. Anehnya, air tersebut diiringi oleh bunyi salak anjing yang tak kelihatan.

Akhirnya tempat itu menjadi sebuah tasik sehingga orang-orang talang yang membuka tempat itu mejadi ladang, pergi ke tempat lain untuk membuka ladang.

Sejak itu pantang-larang benar-benar dipegang dengan keras. Tak boleh ada orang yang berani secara sombong melanggar pantang-larang itu semau hatinya saja

 

catatan : tulisan ini dikutip dari tugas mata pelajaran Budaya Riau pada tanggal 3 April 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s