Menjauh dari Lelaki Bukan Muhrim

Maaf main blokir lagi kayak anak kecil. Salah sendiri kenapa (maaf) otak ga bisa dipake, padahal udah kuliah pun masa ga pandai juga baca apa yang udah dikasih tau pake tulisan.

Kalo memang anda tetap teguh pendirian dengan apa yang anda mau sampai membuat hidup orang terganggu, saya juga berhak membuat tembok perlindungan untuk diri saya sendiri.

Anda tak akan pernah paham dan tak bisa menghargai saya. Anda terlalu egois.

Saya capek berdebat dengan anda. Saya malas keluarin banyak kata hanya untuk melampiaskan kekesalan saya terhadap hal-hal (maaf) bodoh yang selalu anda lakukan.

Anda selalu bilang, kalo orang salah tolong dikoreksi.

Tapi, bisakah anda meminta koreksi ke teman anda yang laki-laki? Anda kan punya teman laki-laki yang juga pandai agama, anda kan bisa sharing bersama dia.

Saya betul-betul tak mau lagi terlalu dekat dan ingin menjaga jarak dengan laki-laki yang bukan muhrim saya

Okelah, mungkin DULU saya memang senang ada orang yang ngasih pertolongan tiba-tiba tanpa saya yang meminta, tak peduli yang melakukannya adalah laki-laki atau perempuan yang bukan muhrim atau muhrim saya. Tapi sekarang, khusus untuk laki-laki yang bukan muhrim saya, saya merasa malu dan risih ada yang berbuat demikian dengan saya.

Ada beberapa hal yang berubah dalam prinsip saya. Misalnya, saya tidak mau duduk tepat bersebelahan disamping laki-laki dan tidak mau terlalu lama banyak bicara (kalo cuma berdua aja).

Akhir-akhir ini, saat saya datang pagi ke kampus, hanya saya dan 1 orang teman laki-laki saya yang baru tiba di kelas. Setelah meletakkan tas, saya langsung keluar kelas, berusaha agar saya tidak berdua saja dengan dia di kelas. Saat ada dua teman perempuan saya yang datang, baru saya ikut masuk ke kelas bersama mereka.

Saya juga tidak tahu apa yang terjadi dengan saya. Ntah kenapa sekarang saya sudah tak peduli lagi bagaimana pertemanan saya dengan beberapa laki-laki yang bukan muhrim saya. Saya tak peduli kalo saya dibilang jutek, sombong, pilih-pilih, menyinggung perasaan mereka, dibilang kurang pergaulan sampai dibilang jodoh lama datang kalo kita ga bisa berbaur sama cowok.

Nah, yang pernyataan terakhir ini betul-betul ingin saya patahkan. Kalo ada yang bilang kalo ga bisa temanan sama cowok itu bakal memperlambat dapat jodoh, menurut saya itu SALAH BESAR!!!! Kalo kita berpikir seperti itu, berarti kita ga terima dengan apa yang udah Allah tetapin. Mungkin, kalo emang ada kejadian nyatanya, bisa saja Allah masih melindungi dia dari orang yang salah. Atau apapunlah itu alasannya, kita ga pernah tau kenapa mereka bisa ditakdirkan Allah seperti itu. Pokoknya, saya udah masa bodoh soal jodoh. Udah lama sih, dari awal tahun ini. Yang jelas saya cuma pengen fokus buat betul-betul ngerasain yang namanya dekat sama Allah. Ah, terlalu panjang diperjelas disini. InsyaAllah, kalo saya ada waktu, saya ingin membuat tulisan pemikiran saya tentang Jodoh.

Saya hanya ingin menjaga jarak dari mereka (laki-laki bukan muhrim). Saya tidak mau terlalu banyak interaksi (karena pada dasarnya, saya orang yang suka banyak bicara kalo sudah nyambung ngobrol dengan orang). Ada perasaan bersalah ketika saya terlalu banyak bicara dengan mereka, maka dari itu saya berusaha untuk meminimalisirnya.

Saya tak peduli, anda bilang saya pencitraan atau hanya sekedar alibi untuk menjauh dari anda. Anda tidak tau siapa saya (dan sebenarnya juga tidak perlu tau). Anda hanya melihat saya dari luar. Jadi saya tak perlu memusingkan hal itu.

Wajar jika orang yang kurang ilmu bisa berkoar sesuka hatinya dengan secuil ilmu yang dia punya, karena mereka juga punya rasa ingin tahu dan ingin menambah serta memperdalam lagi ilmu yang mereka punya. Tapi maaf, saya tidak mengizinkan anda untuk melakukan itu kepada saya.

InsyaAllah, saya juga selalu berusaha untuk mengingatkan diri saya agar bisa menjaga diri dan jarak dengan mereka. Salah satunya adalah dengan zikir. Karena zikir bisa membuat kita selalu ingat dengan Allah, dan insyaallah saya pun jadi teringat dengan “misi” saya.

Tak perlu saya meminta teman saya untuk mengingatkan saya. Karena menurut saya, semua perubahan hidup itu diniatkan dari dalam diri. Kita pemimpin diri kita sendiri, maka kitalah yang harus selalu memulai dan mengontrol perubahan tersebut.

Satu pertanyaan untuk saya sendiri yang saya tak berani menjawabnya dengan pasti; apakah saya bisa dibilang sudah hijrah, kalau saya punya prinsip seperti ini?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s