Jadi Hafidz Setelah Lamaran Ditolak

LAMARAN DI TOLAK, PEMUDA INI NEKAT MENGHAFALKAN ALQUR’AN (Kisah haru lika liku pemuda saat menemukan tulang rusuknya).

 

kehadiran saya mengganggu waktu ibu dan bapak.”

Daud pun pamit kepada kedua orang tua Fatimah, sebelum meninggalkan rumah, ayahnya Fatimah menghampiri Daud di pintu gerbang rumahnya, beliau berkata kepada Daud,

“Nak, ayah sangat bangga kepadamu atas keberanian kamu hendak melamar Fatimah, ayah sebenarnya setuju saja jika kamu nantinya menjadi imam buat Fatimah, rasanya baru kemarin ayah mengasuh dan mendidiknya, ternyata Fatimah sekarang sudah dewasa. Maaf ya nak, ayah tidak tahu kalau ternyata ibu sudah mempunyai calon suami buat Fatimah. Kamu harus menjadi lelaki yang kuat, tetap berikhtiar, dan tentunya harus menyertakan Allah dalam setiap keputusanmu, ayah doakan kamu mendapatkan calon istri yang terbaik.”

Nasihat ayah Fatimah yang cukup bijak.

“Terima kasih pak, semoga putri bapak juga mendapatkan calon suami yang bisa membimbing Fatimah dalam mahligai pernikahan yang diridhai Allah ta’ala.”

Daud pun mencium tangan ayah Fatimah sebagai rasa takzim kepadanya dan langsung berpamitan.

“Kak, maafkan Fatimah dan kedua orang tua Fatimah jika silaturahim kakak jadi kurang berkesan, Fatimah tidak tahu jika ibu ingin menjodohkan Fatimah dengan orang lain. Fatimah akan bicara ke ibu kalau Fatimah tidak mau dijodohkan. Kak, besok Fatimah mau kembali ke KL, melanjutkan kuliah. Doakan Fatimah.”

Fatimah langsung mengirimkan sms ke Daud, ia merasa sangat khawatir jika Daud kecewa.

“Tidak ada yang perlu dimaafkan dan tidak ada yang salah, justru saya yang mohon maaf. Ikuti saja nasihat ibu, beliau tahu mana yang baik untuk anaknya, jangan mengikuti hawa nafsumu. Kakak doakan semoga perjodohan itu bisa membuat kamu lebih fokus dalam belajar karena sudah jelas tujuan hidupnya.” Tutup Daud seraya mendoakan yang terbaik untuk Fatimah.

 

Hari berganti hari, tepat pada hari Sabtu pagi setelah shalat subuh, terlihat Daud khusuk mendengarkan pengajian tafsir di sebuah masjid raya kota Bekasi yang dipimpin ustad Abdul Hakim. Ustad Abdul Hakim adalah seorang imam besar yang sangat masyhur keahliaannya dalam bidang tafsir Al-Quran, beliau lulusan Al-Azhar Mesir, tak aneh bila setiap ada jadwal kajian masjid selalu penuh, banyak jamaah dari jauh yang juga sengaja datang untuk mendapatkan pencerahan ilmu dan hikmah darinya.

“وَأَنْكِحُوا الأيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Ayat 32 dari surat An-Nur ini adalah anjuran untuk menikah, maksudnya, hendaklah laki-laki yang belum menikah atau tidak beristri atau wanita-wanita yang tidak bersuami, dibantu agar mereka dapat menikah.

Oleh karena itu, anggapan bahwa apabila menikah seseorang dapat menjadi miskin karena banyak tanggungan tidaklah benar. Dalam ayat ini terdapat anjuran menikah dan janji Allah akan memberikan kecukupan kepada mereka yang menikah untuk menjaga dirinya.

Allah mengetahui siapa yang berhak mendapat karunia agama maupun dunia atau salah satunya dan siapa yang tidak, sehingga Dia berikan masing-masingnya sesuai ilmu-Nya dan hikmah-Nya.

Jika sudah siap lahir bathin, segeralah menikah!

Bagi yang belum mampu, Allah telah menjelaskan pada ayat setelahnya. Allah memerintahkan kepada kita untuk menjaga kesucian diri dan mengerjakan sebab-sebab yang dapat menyucikan diri, seperti mengalihkan pikiran dengan menyibukkan diri dalam kegiatan positif dan melakukan saran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu berpuasa.”

Demikian salah satu isi kajian ustad Abdul Hakim yang dibawakan dengan penuh kewibawaan dan retorika yang lantang.

Ternyata tema pembahasan tafsir kali ini sangat menyentuh hati dan perasaan Daud, dia terpana dengan penggalan ayat ini, “Jika mereka miskin, Allah akan memberikan kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya”.

Setelah pengajian usai, Daud pun langsung menghampiri sang ustad, rupanya dia ingin bicara empat mata seraya mencurahkan masalah dan ujian hidup yang dialaminya agar diberikan solusi yang tepat dan mencerahkan.

Akhirnya Daud di ajak ke kamar khusus imam di lantai 2 masjid. Dengan panjang lebar Daud bercerita tentang semua hal yang terjadi dalam perjalanan hidupnya, tak terasa air mata Daud pun berlinang.

“Mas Daud, kita tidak memiliki kemampuan untuk mengubah masa lalu dan tidak mampu menggambarkan masa depan dengan gambaran yang kita kehendaki, lalu mengapa kita bunuh diri sendiri dengan bersedih atas apa yang kita tak mampu mengubahnya??!!

Bersabarlah dengan skenario Allah yang indah.”

Banyak kata-kata hikmah yang keluar dari lisan keikhlasan sang ustad, akhirnya Daud bertekad ingin bangkit kembali, bangun dari tidur yang panjang.

Ada satu azzam Daud yang sungguh luar biasa, yaitu ingin mengkhatamkan hafalan Al-Quran 30 juz dan memohon kepada ustad Abdul Hakim untuk mendengarkan hafalannya sampai tuntas, karena hatinya bergetar ketika sang ustad menyarankan untuk menghafal Al-Quran, sebab Al-Quran merupakan obat dari berbagai macam penyakit.

Air mata Daud pun langsung terurai menetes ketika ustad Abdul Hakim membacakan sebuah hadis keutamaan seorang penghafal Al-Quran yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya,

“Dari Buraidah al-Aslami Ra., ia berkata bahwasanya ia mendengar Rasulullah Saw. bersabda, ‘Pada hari kiamat nanti, Al-Quran akan menemui penghafalnya ketika penghafal itu keluar dari kuburnya. Al-Quran akan berwujud seseorang dan ia bertanya kepada penghafalnya, ‘Apakah Anda mengenalku?’ Penghafal tadi menjawab, ‘Saya tidak mengenal kamu.’ Al-Quran berkata, ‘Saya adalah kawanmu, Al-Quran yang membuatmu kehausan di tengah hari yang panas dan membuatmu tidak tidur pada malam hari. Sesungguhnya, setiap pedagang akan mendapat keuntungan di belakang dagangannya dan kamu pada hari ini di belakang semua dagangan.’ Maka, penghafal Al-Quran tadi diberi kekuasaan di tangan kanannnya dan diberi kekekalan di tangan kirinya, serta di atas kepalanya dipasang mahkota perkasa. Sedang kedua orang tuanya diberi dua pakaian baru lagi bagus yang harganya tidak dapat dibayar oleh penghuni dunia keseluruhannya. Kedua orang tua itu lalu bertanya, ‘Kenapa kami diberi pakaian begini?’ Kemudian dijawab, ‘Karena anakmu hafal Al-Quran.’ Kemudian, kepada penghafal Al-Quran tadi diperintahkan, ‘Bacalah dan naiklah ke tingkat-tingkat surga dan kamar-kamarnya.’ Maka, ia pun terus naik selagi ia tetap membaca, baik bacaan itu cepat atau perlahan tartil).”

 

Setelah melewati masa-masa sulit dalam menghafal Al-Quran, alhamdulillah akhirnya Daud dapat mengkhatamkan hafalan Al-Quran dalam kurun waktu kurang lebih satu tahun.

Ustad Abdul Hakim merasa bangga dan terharu atas kegigihan dan kesungguhan Daud, ustad Abdul Hakim pun memberikan sanad hafalannya ke Daud dan berpesan kepada Daud yang dikutip dalam sebuah hadis diriwayatkan oleh imam Bukhari,

“Jagalah Al-Quran, demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya, Al-Quran itu lebih cepat lepas dari pada seekor onta dari ikatannya.” Sungguh nasihat yang penuh makna.

Setelah itu giliran Daud yang ingin diajak bicara empat mata oleh ustad Abdul Hakim, rupanya ada satu hal penting lagi yang ingin disampaikan sang ustad berkaitan dengan jodoh.

“Mas Daud, maaf jika ini menyinggung perasaan mas Daud. Ada orang tua yang datang kepada saya, kebetulan masih jamaah saya juga, namanya bapak Abdullah, seorang pemimpin perusahaan elektronik di Jakarta, Ph.d lulusan Amerika, dia memiliki 3 putri cantik, dia ingin minta dicarikan calon suami untuk anaknya, kriterianya hanya bisa membimbing putrinya dalam hal agama, menjadi imam yang baik buat putrinya.” Dengan penuh kehati-hatian ustad Abdul Hakim menyampaikannya, tapi tetap dengan kekhasan senyuman di wajahnya yang bersinar.

“Sebelumnya saya berterima kasih karena ustad sudah menyampaikan hal itu, tapi saya mohon maaf, bukan saya menolak, tapi saya takut tidak bisa mengikuti keinginan yang biasa keluarga dia lakukan, karena saya terbiasa hidup sederhana dan memang dari keluarga sederhana.” Jawab Daud juga dengan rona wajah takut mengecewakan perasaan guru ngajinya itu.

“Ya sudah, , sekarang kamu istikharah, jangan lupa hal ini diberitahu ke orang tuamu di kampung.” Demikian nasihat Ustad Abdul Hakim kepada Daud.

“Insya Allah, ustad.” Tutup Daud.

 

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Akhirnya Daud pun menemukan belahan jiwanya, putri bungsu bapak Abdullah, Nourhan Abdullah. Putri bungsu yang manja dan ceria, lulusan Psikologi Universitas Indonesia, itulah bidadari surga yang dipersunting Daud menjadi istrinya.

Kini hidup Daud penuh keberkahan, dia memimpin sebuah pesantren tahfizh modern di Bogor, yang juga mempelajari sains dan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi).

Pesantren Al-Quran dan Teknologi Fakhruddin Ar-Razi, Daud mengambil berkah dari nama seorang ulama yang sangat terkenal dan sangat berpengaruh pada masanya itu. Ia menguasai berbagai disiplin keilmuan baik di bidang ilmu-ilmu sosial maupun bidang ilmu-ilmu alam eksakta). Ar-Razi juga seorang sastrawan, penyair, ahli fiqh, ahli tafsir, ahli hikmah, ahli ilmu kalam, seorang dokter medis dan sebagainya. Sehingga tidak diragukan lagi banyak para ilmuwan yang belajar kepada beliau baik para ilmuwan dalam negeri maupun para ilmuwan luar negeri.

Salah satu pelajaran yang bisa dipetik dari kisah di atas adalah,

“Kalau datang kepadamu seorang laki-laki yang kamu sukai agama dan akhlaknya maka nikahkanlah. Kalau tidak, maka akan terjadi fitnah dan kerusakan besar di muka bumi.”

Demikian pesan nabi Muhammad Saw. kepada para orang tua, khususnya yang memiliki putri yang belum menikah.

Sangat wajar bila para orang tua memiliki kekhawatiran terhadap nasib anak-anak mereka di masa mendatang, khususnya anak perempuan. Namun Rasulullah Saw. telah memberikan petunjuk dalam memilihkan jodoh untuk anak perempuan. Kuncinya ada dua: AGAMA dan AKHLAK, karena agama tanpa akhlak akan cacat, sedangkan akhlak tanpa agama percuma….

 

Semoga renungan ini bermanfaat..

 

credit by Official LINE : Muslim Terbaik.
diunggah tanggal 19 November 2016 (judul blog dibuat oleh saya sendiri, bukan judul asli tulisan ini. Penulisan yang ditebalkan adalah inisiatif saya sendiri, bukan bawaan tulisan ini)

Nikah Muda

Maaf kalo judulnya agak sedikit alay, atau apapunlah yang membuat pikiran kalian yang ngebaca ini jadi beranggapan kalau aku lagi kesepian. Ga kok, alhamdulillah. Aku buat tulisan ini karena lagi ga bisa tidur, dan kebetulan juga ada mood buat ngetik, sekalian cerita gitulah.

Semuanya berawal dari aku yang nge-buka akun Instagram salah satu artis Indonesia. Udah lama ga ada update perkembangan posting-an mereka, tiba-tiba aja pengen buka karena liat potonya di explore.

Akhirnya aku scroll bentar poto-poto di profilnya. Kualitas kameranya bagu, terus feed-nya juga ga membosankan, jadi makin betah buat liat terus.

Baru bentar aja nge-scroll, ntah kenapa aku ada sedikit rasa pengen juga bisa kayak mereka. Aku jadi pengen bisa punya partner teamwork kayak gitu. Pengen bisa ngerasain suka-dukanya bekerja sama supaya bisa hidup bareng-bareng, main bareng sama anak kecil terus bisa poto barengan sama partner-ku, intinya ngelakuin semuanya sama-sama.

Padahal, nikah tu kan ga cuma senang-senang aja. Banyak pertimbangannya kan. Ga semua yang diliat indah itu emang seindah yang kita lihat. Pasti ada juga masa-masa mood ga baik, jadinya emosi ga terkontrol gitu.

Tapi, kalo ngeliat kebersamaan mereka, ntah kenapa semua ketakutan tu malah jadi hilang. Kok yang ada malah energi positif, ga ada yang namanya takut ini itu, karena ngelakuinnya bareng-bareng, bukan sendirian.

Gara-gara ini juga, jadi kepikiran ntar pengen punya laki yang betul-betul bisa diajak  sama-sama buat ngelakuin yang aku suka (maaf egois kali ini rasanya haha). Gapapa ga ganteng kayak Bule atau orang Arab, yang penting dia agamanya kuat, pengertian, penyabar, pemikir, dan pekerja keras! Dah. Itu aja dah. Udah cukup buat modal family goals aku 😀

Ngerti ajalah kan, yang namanya cewek itu jauh lebih banyak pakai perasaan ketimbang cowok. Jadi, maklum kalau seandainya cewek tu pengen cowok tu bisa ngertiin dia. Karena cewek adalah tipe makhluk dengan tingkat kualitas perasaan yang lebih tinggi dari cowok, otomatis kalo udah dingertiin ntar bakal dihargai balik kok cowoknya. Pasti bakal ada timbal baliklah. Yang penting itu aja dulu, ngertiin ceweknya.

Honestly, aku rada-rada iba sama diriku yang nulis kalimat ini. Ntah kenapa bisa muncul pemikiran kayak gini. Kenapa aku malah terikut syndrom anak-anak alay yang sibuk ngegalauin soal cinta ketimbang mikirin proposal buat skripsi ntar.

Astaghfirullah…

Pertanda apa ni? Udah ga kuat kuliah? Atau apa, ti? -_-

Apa pemikiran kayak gini wajar ya untuk aku yang tanggal 7 Juli ini baru masuk 20 tahun?

Ga kebayang, gimana jadinya ya kalo seandainya ada orang yang sesuai dengan apa yang aku mau tiba-tiba didatangkan ke aku sekarang ini juga? Gimana tu ntar kalo seandainya aku malah nikah pas semester 7 ya? Hahahaha ya Allah..

Jauh kali aku mikirnya.

Udah, fokuslah permak diri tu dulu ya ukh! 🙂

FOKUS. FOKUS.

F O K U S !!!

Pengen Sibuk Lagi

Rindu sibuk-sibuk kayak acara FSLDKN kemaren.

Rindu kerja sampe ga bisa bobok tenang.

Rindu ga mikir makan (malahan ga lapar) karena banyak yang harus diselesaiin.

Rindu ga bisa diam di tempat.

Rindu bolak-balik sana-sini selama acara.

Rindu panik karena batrai hape mulai habis dan ga ada tempat cas-an.

Rindu susah tidur.

Rindu banyak pikiran dan stres.

Rindu bisa mikir cepat dapatin solusi masalah dalam kondisi urgent.

Rindu bisa megang amanah lagi.

Rindu baju kena keringat sampe bau karena full seharian diluar lengkap sama terik matahari.

Rindu perasaan bahagia karena bisa bantu-bantu peserta yang bukan pegangan aku.

Rindu momen bisa nambah ukhuwah baru.

Rindu nikmatnya makan siang abis ngantarin peserta ke bandara.

Rindu nikmatnya waktu bisa baring nyantai pas udah sampai di rumah setelah acara selesai (karena di waktu itu betul-betul kerasa kali yang namanya nikmat tidur di rumah sendiri).

Rindu perasaan bersyukur bisa dapatin kebahagiaan yang haqiqi karena bisa makan masakan mama 😀

Ah… pokoknya rindu semangat dan aku di 3 hari itulah intinya.

Ntah kenapa beda rasanya. Padahal ini aja sekarang udah ada tugas, belum lagi belajar buat kuis, tapi masih aja bawaannya kok malas buat buka buku. Yang ada malah pengen tidur aja bawaannya.

Lucu ya, aneh!

Pas acara, pengennya cepat-cepat siap acaranya. Pas udah seminggu acaranya selesai, malah kangen bisa sibuk kayak gitu lagi.

Izinkan aku sibuk seperti itu lagi, please.

Mudah-mudahan di KKN bakal kayak gitu lagi, dan dokumentasi poto-potonya juga lebih banyak 😀

Aamiin ya Allah.

Drama Lagi

Akhirnya aku kesal lagi sama dia, setelah hampir 2 bulan kami biasa aja. Ga tau lah kenapa aku sama dia harus punya cerita kayak gini. Kenapa hidup aku harus ada dia? Kenapa dia tu harus kenal sama aku? Kenapa kami harus ketemu? Kenapa ya Allah kenapaaaaa…

Sederhana aja masalahnya, berawal dari dia yang ngeliatin aku waktu jam kuliah. Waktu itu aku lagi ngomong sama teman cowokku. Aku sadar dia noleh ke arahku, tapi awalnya ga mau aku tegur. Akhirnya aku berani caliak buruk pas dia udah terlalu sering ngeliatin aku ngomong ke temanku ini, biarpun cuma sebentar.

Terus aku tanya ke dia, kenapa dia kayak gitu. Tapi ujung-ujungnya malah ga ngejawab pertanyaan, malah ngebahas hal lain. Dan akhirnya aku malas bahas, sampai malah jadi malas buat liat nama dia dalam chat, sampai akhirnya aku mutusin buat ga usah ada urusan lagi ke dia.

Ndeh. Ntahlah. Kesal sendiri liatnya. Nanti siap “kelahi” ni udah baikan aja lagi. Ih sumpahlah, aku malas kali kek gini terus sama dia. Pengen ga kenal dia lagi. Pengen ga jumpa dia lagi. Pengen ga ngomong sama dia lagi. Pokoknya JAUHKAN DIA DARI HADAPAN AKU.

Aku bukannya benci, aku cuma ga mau ada urusan lagi.

Kesal aku ngeliat dia yang seolah-olah ngekang aku buat kenal cowok lain.

SIAPA KALI KAU TU EMANGNYA? Kok udah segitu yakinnya kau kalo kita berdua ni bakal jodoh? Kenapa kau tu kayak takut sama takdir Allah kalau nanti kita ga jodoh? Kau punya Allah atau ndak? Ndeh asli emosi parah liat kelakuan diaaaaaaa 😥

Egois kali kau jadi orang. Bentuk kau aja yang sok ngelindungin aku. Kata kau udah baik kali kau tu emangnya kalo udah berhasil bikin aku jadi kurang banyak ngomong sama cowok?

Plislah ya. Harusnya kau tu sadar diri. Kau aja GA ADA SEGAN KALO NGOMONG SAMA AKU BERDUA AJA DI LORONG DEPAN KELAS YANG ISINYA CUMA KITA BERDUA!! KAU BILANG PULA AKU RISIH KARNA NGOMONG SAMA KAU.

Ndeh, plis lah. Kita ini cewe cowo, kita bukan muhrim. Aku risih karena itu aja nyo! Aku takut berdua aja ngomong sama cowok di tempat sepi, bukan karena ngomong dengan kau nya.

Tapi itulah kau, duh entahlah.

Aku betul-betul serasa diuji  sama Allah dengan datangnya kau dalam hidup aku. Rasanya, kalo ngeliat kau tu udah sama aja kayak ngeliat aib sendiri.

Cepatlah tamat, terserahlah siapa yang tamat duluan. Yang penting, aku gamau ada urusan sama kau lagi.

AKU GA MAU NAMBAH-NAMBAH DRAMA LAGI.

Jumpa Sekilas

Akhirnya aku tau dia siapa.

Saat gerimis waktu itu, untuk pertama kalinya aku melihat dia, setelah hampir seperempat windu berada di ruang lingkup yang sama tanpa sama sekali mengetahui keberadaannya.

Tak apa sekejap, yang penting aku tau dia siapa.

Alhamdulillah, dari fisik tak sesuai seleraku. tak terlalu tampan, tak terlalu tinggi.

Namun sayang, keramahannya dengan banyak orang justru membuatku ingin lebih tau lagi tentangnya, tanpa harus menggebu-gebu untuk tahu detik ini juga.

Aku hanya membiarkan semuanya terjadi, tak pernah muluk-muluk untuk harus kenal dengannya.

Aku tak terlalu memusingkan hal itu, karena aku udah pasrahkan semuanya sama Allah.

Saking tak pedulinya, sampai detik ini aku udah bisa ngelupain perasaan ingin tahu tentang dia; perasaan yang ada tepat saat aku pertama kali melihat kata bijak yang ia letak di avatar LINE-nya.

Kata-kata yang sempat membuatku terpukau, dan sempat yakin kalau dia adalah tipe jodoh terbaik.

Semoga lain waktu kita bisa berjumpa lagi.

Wallahu’alam bishawab.

Pasrah

5Zw_dcuUrw

Sebelumnya, aku pengen ngucapin terima kasih (yang tak tersampaikan ini) kepada LINE @TeladanRasul yang udah nge-post gambar ini.

Tulisan di atas jadi penyemangat aku buat yakin dengan apa yang udah aku putusin. Aku pengen, ini yang terakhir kalinya aku up and down untuk satu masalah itu. Padahal di semester 5 kemaren aku udah memantapkan diri buat betul-betul hijrah, pengen ngerubah diri jadi apa yang Allah mau. Dan ternyata ujiannya cukup membuatku sedikit terlena dengan dunia, yang akhirnya ngebuat aku jadi rugi sendiri, kayak hari ini.

Tetap bersyukur dengan semua kejadian yang aku alami sampai sekarang. Mungkin, kejadian itu juga jadi salah satu ujian dari Allah, sampai dimana aku betul-betul serius untuk jadi hamba sejati-Nya. Pastilah ya, ibaratnya kalau mau ngelamar kerja, kan ga langsung diterima jadi pegawai tetap. Pasti ada magangnya dulu kurang lebih 3 bulan.

Gitu juga dengan Allah. Tentu Allah ga bakal langsung terima kita buat jadi hamba sejati-Nya. Kita harus memenuhi syarat-syarat yang ada. Dan aku rasa, itu yang aku alami dari awal aku memulai niatku sampai hari ini.

Aku ga mau tau apa yang bakal terjadi selanjutnya, aku cuma pengen belajar jadi orang baik setiap harinya. Aku cuma pengen tetap istiqomah dan terus ikhtiar dengan keputusan-keputusan yang udah aku ambil, hasilnya aku pasrahkan sama Allah.

Biarpun sebenarnya masih ada rasa takut, keberatan, bimbang, ga terima, dan hal-hal negatif lainnya, tapi aku pengen belajar jadi orang yang kuat. Aku pengen belajar menerima semua yang ga sesuai dengan apa yang aku mau, supaya aku bisa belajar dari kesalahan itu. Supaya aku bisa koreksi diri lagi, kenapa kejadian itu bisa terjadi, dan gimana caranya aku bisa mengatasi itu.

Aku percaya, semua yang udah terjadi sama aku pasti ada sisi baik yang dikasih-Nya, yang sampe sekarang belum aku tahu itu apa. Aku harus bisa husnudzon, mau seburuk apapun keliatannya sekarang dimataku, karena Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Jadi ga mungkin Allah kasih hal-hal jelek sama hamba-Nya yang selalu sadar dengan kesalahannya dan terus berusaha memperbaiki diri.

Allah sayang kepada semua hamba-Nya yang selalu ingat kepada-Nya.

Ganbatte, Ti! ❤

 

Pindah Majikan

Barusan, ada tetanggaku yang manggil dari luar. Ternyata ada keponakan beliau (sebut namanya S) yang minta salah satu anak kucingku yang hari ini umurnya 4 bulan lewat 1 hari. Kebetulan, di rumah udah tinggal sepasang jantan-betina dari 4 ekor (yang satu hilang diambil orang dan yang satunya mati karena ga tahan hidup abis tergilas dikit sama Papa pake mobil).

Tanpa mikir panjang aku langsung aja bilang ambil yang betina aja. Ternyata S maunya yang warna hitam-putih, dan pas pula itu yang betina. Awalnya, aku biasa aja pas dia juga sepemikiran denganku. Tapi waktu ngeliat si hitam-putih digendong sama S, sifat busuk hati aku mulai muncul. Aku jadi ga rela kalo dia harus diadopsi sama S. Mukanya melaaaaaasss kaliii:( Comel kalilah pokoknya, aku jadi ngerasa rugi udah ngasih si hitam-putih ke S.

Abis itu aku jadi ter-flashback tentang kelakuan hitam-putih yang dulu. Kalo dipikir-pikir, dia yang paling imut mukanya dibanding abangnya. Dia yang paling lasak, dia yang paling bulat badannya, dia yang paling melas suaranya, dan yang paling penting : MUKA DIA YANG PALING IMUT! Duh, aku jadi sedih pula harus ngerelain dia pergi.

Dan anehnya, aku ga bisa bawa perasaan aku ini buat jadi bercanda gitu. Aku cuma bisa ngomong pelan sambil nahan rasa ga rela aku tadi. Makanya mungkin tante ini (tetanggaku) langsung nanyain aku ikhlas apa ga ngasihnya, tapi sambil ketawa gitu beliau nanyainnya. Kayak bawa becanda gitu.

Hmm… tapi aku yakin kok, aku bakal bisa ikhlas nerima dia pergi dari rumah ini. Aku yakin bakal bisa lupa kalo pernah sedih dia pindah ke majikan baru, karena sebelumnya aku pernah ngerasain hal yang sama. Bedanya, yang dulu itu orangnya ngambil tanpa seizin aku, kalo sekarang mereka ngambilnya langsung bilang ke aku.

Kalo diingat kejadian dulu, sedih kali rasanya kucing tu hilang satu. Dan pas pula yang hilang tu yang palinggggg imut mukanya dibandingkan 3 yang lainnya. Ada sempat ngerasa rugi dan ga rela dia hilang tiba-tiba kayak gitu. Aku lupa kejadiannya kapan, yang jelas waktu itu mereka udah keluar dari kandang, udah bisa makan ikan. Mungkin 2 bulan yang lalu deh. Eh, ntahlah. Sekarang aja, aku ga ada ingat sama sekali kalo aku pernah kehilangan kucing yang paling lucu mukanya. Ya kayak biasa-biasa ajalah pokoknya.

Makanya aku yakin, perasaan ga rela yang aku alami sekarang ini bakal jadi pelampiasaan sedih sesaat aja. Toh, aku juga ga narok kucing ini di rumah kok. Aku juga ga ada ngasih nama ke mereka berempat.

Ya aku pengen punya kucing karena senang aja ngeliat muka comel mereka, terus ada yang nyamperin kalo udah sampe rumah. Bayangin ajalah, hampir tiap hari kalo aku pulang ngampus, pasti hitam-putih sama abang dan ibuknya nyamperin aku ke rumah. Ndeh, aku baru ngeh pula pas ngetik ni, mereka bisa so sweet gini sama aku. Kenapa aku ga peka ya, kenapa selama ini cuma jadi angin lalu aja kelakuan mereka yang begini wkwkw. Maksudnya tu, udah kayak formalitas aja kalo mereka udah pasti datang ke rumah kalo aku udah balik ngampus.

Gapapa deh, biarin aja si hitam-putih dapat majikan baru. Aku pasrah aja. Aku pernah dengar rumor, katanya kalo kucing udah gede kek gitu dia bisa aja balik sendiri ke majikan pertamanya.

Hmmm ntahlah ya, pokoknya doa kakak yang terbaik buatmu dek 🙂